Berhenti Berkompetisi Dalam Hidup

Berhenti Berkompetisi Dalam Hidup

Di kesempatan sebelumnya kita sudah bicara tentang dua hal yaitu tentang mencari di dalam gelap dan jujur pada diri sendiri. Untuk makin memperkuat fondasinya agar tidak mudah goyah selama perjalannya dan menumbuhkan keberanian seiring perjalanan. Saya perlu bicarakan tentang kompetisi.

Sebelum itu seperti biasa saya mengingatkan, bahwa kamu yang menyimak ini boleh tidak setuju dengan saya.

Dari kecil mungkin kita sudah sering dibandingkan dan merasa dinilai tentang ini salah dan itu benar. Tidak perlu jauh-jauh dengan orang lain, jika kamu memiliki kakak atau adik, seringnya perbadingan ini tidak dapat dihindari.

Seiring berjalannya waktu kita masuk ke pergaulan lanjut yaitu sekolah, bahkan saat masih PAUD, orang tua kita atau orang di sekitar sering kali sadar atau tanpa sadar mulai membandingkan kita dengan orang lain.

“Wah lihat dia hebat ya, coba kamu contoh seperti dia. Dan lain-lain.”

Begitu seterusnya hingga nanti kamu dewasa. Sebagian masyarakat menilaimu dari seberapa besar harta, seberapa tinggi jabatan, juga ilmu (gelar) yang kamu miliki. Sebagai penerapan status sosial yang dipercaya berlaku oleh sebagian orang .

Sampai sini kira-kira apa yang bisa kamu sadari?

Benar, keadaan seperti ini melatih kita untuk berkompetisi sejak dini. Berusaha untuk lebih unggul daripada individu yang lain. Opsinya cuma dua antara menang atau kalah.

Kesannya hidup di dunia ini perlombaan tanpa akhir. Bisakah kamu benar-benar tenang ketika menjalani hidup di tengah perlombaan setiap harinya?

Kompetisi tidak mengenal perbedaan, harus ada yang menang, harus ada yang kalah. Harus ada yang benar, harus ada yang salah. Berbeda atau tidak sesuai arus normal bisa dicap sebagai sesuatu yang salah.

Keadaan berkompetisi ini mengantarkan kita hanya pada dua hal, kompleks inferioritas dan kompleks superioritas.

Bagi yang menang, biasanya akan menumbuhkan kompleks superioritas menjadi sombong, arogan, atau harus dituruti sebagai otoritas, bagi yang kalah biasanya menumbuhkan kompleks inferioritas hilang percaya diri atau merasa rendah diri.

Baik menang atau kalah, dua-duanya tidak ada untungnya sama sekali. Bahkan ketika kita menang terus menerus.

Wajar apabila sekarang ini banyak yang melihat sesuatu dan orang lain sebagai musuh atau lawan yang harus ditaklukan sadar atau tanpa sadar. Contohnya, banyak yang berargumen mati-matian untuk membuktikan orang lain salah dan dia yang benar. Ada juga orang yang rela menjatuhkan orang lain agar dia lebih unggul. Ngoyo untuk diakui orang sebagai pemenang.

Masalahnya dalam kompetisi hidup, yang kita anggap sebagai kompetitor bisa jadi bukan hanya orang-orang yang memang seharusnya menjadi rival kita. Bahkan dalam keluarga, rumah tangga, kita masih melihat adanya kompetisi disana.

Contohnya :

  • Kompetisi antar orang tua dan anak
  • Kompetisi antar saudara
  • Kompetisi dengan pasangan (banyak yang berusaha mati-matian mendominasi dan menaklukan pasangannya lho, banyak juga yang berkompetisi siapa yang memiliki karir lebih baik dengan pasangan)

Kompetisi terkait berebut pengaruh, otoritas, sampai kompetisi siapa yang lebih unggul, kuat atau hebat.

Tapi pernahkah kita mempertanyakan? Kenapa sama pasangan sendiri harus kompetisi? Kenapa sama orang tua sendiri atau saudara sendiri harus berkompetisi? Apa yang perlu kamu buktikan? Apa untungnya berkompetisi dengan orang-orang yang harusnya kamu bisa rangkul, orang yang seharusnya menjadi tempat berbagi kasih sayang juga keluh kesah, dan orang yang seharusnya jadi teman seperjuangan dalam hidupmu.

Apa untungnya?

Banyak rumah tangga hancur gara-gara kompetisi ini, banyak pertemanan hancur karena kompetisi ini, banyak hubungan dingin dalam keluarga diakibatkan karena kompetisi ini, banyak juga hubungan antara orang tua dan anak tidak hangat karena kompetisi.

Tapi kompetisikan katanya sehat? Bisa memicu kita untuk berkembang. Ada benarnya, tapi bayangkan efek sampingnya. Jika segala aspek dalam hidup harus berlandaskan kompetisi, yang ada malah kita tidak akan pernah bisa menjadi diri sendiri, tidak akan pernah bisa tenang dan tentram.

Saya tidak bilang bahwa tidak boleh ada kompetisi, boleh asal pada tempatnya. Dalam olahraga contohnya, boleh-boleh saja kamu berkompetisi dalam perebutan gelar atau piala. Kenapa? Karena lawannya jelas, arenanya jelas, cakupannya jelas, waktunya jelas, bahkan hadiahnya jelas.

Tapi meskipun kamu atlet, apa kamu mau membawa kompetisi itu ke rumahmu dan berkompetisi dengan pasangan atau anakmu menunjukan bahwa kamu hebat dan juara yang memiliki kekuatan sehingga setiap perkataanmu harus diikuti dan didengar semua anggota keluargamu? Tidak bukan?

Hidup dengan sudut pandang melihat sesuatu sebagai kompetisi membuat kita tidak tenang, selalu was-was dan takut ada kompetitor yang bisa mengunggulimu setiap saat. Karena kita melihat orang-orang di sekitar sebagai lawan atau musuh yang bisa sewaktu-waktu menerkam kita.

Memang benar, kesannya dunia bukan tempat yang menyenangkan untuk hidup ketika kita melihat dari kacamata orang yang berkompetisi.

Itulah kenapa saya memilih untuk berhenti berkompetisi dalam hidup.

Saya kembali ke fitrahnya manusia yang unik, tidak ada yang benar-benar sama sehingga sebenarnya tidak dapat dibanding-bandingkan. Masing-masing orang punya gaya dan cara masing-masing. Masalah kamu setuju atau tidak dengan cara dan gaya mereka tidak usah diambil pusing. Setuju yasudah, ga setuju juga yasudah. Tidak perlu jadi berkompetisi untuk menentukan siapa yang benar, siapa yang salah, siapa yang menang, siapa yang kalah.

Pada dasarnya inferioritas bukan hal yang buruk karena itu juga fitrah manusia. Inferioritas adalah faktor yang menyebabkan manusia juga berkembang. Contohnya ketika kamu merasa nilaimu masih kurang dari batas lulus, kamu sadar kamu harus belajar sampai akhirnya kamu bisa lulus. Itu inferioritas yang sehat.

Inferioritas yang sehat itu tidak datang dengan cara membandingkan dirimu dengan orang lain, tapi dengan membandingkan diri kita dengan keadaan ideal. Mengambil contoh sebelumnya, “kita merasa perlu belajar karena kita belum memenuhi batas lulus, bukan karena harus lebih pintar dan hebat dari si A”.

Inferioritas yang tidak sehat karena membandingkan diri dengan orang lain, hanya membuat kita hanyut memperbesar masalah dan masuk ke dalam inferioritas kompleks. Kemudian, menggerus percaya diri dan keyakinanmu terhadap kemampuan dirimu sendiri hingga membuat merasa rendah diri. Kita menjadi merasa tidak mampu, merasa mustahil bahwa kita bisa melakukan sesuatu itu.

Hal yang mungkin terjadi lagi? Merasa bahwa hidup ini tidak adil. (Mengapa dia begini dan aku begini)

Rehatlah sejenak, coba tanya pada diri kamu sendiri. Masihkah kamu mau untuk terus berkompetisi dalam hidupmu?

Berhentilah berkompetisi dalam hidup. Kamu tidak perlu membuktikan apapun dan pada siapapun. Kamu bisa hidup menjadi dirimu apa adanya, fokus pada hal-hal yang ingin kamu lakukan, dan terus berkembang. Mulai dari sekarang.

Related Articles

About author View all posts

Deni Heriyana

Mind Consultant & Therapist, Life Coach, Founder sekaligus penulis di 101mind.com, dan Part-Time Coder.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *