Gelas Kosong

Gelas Kosong

Halo, sudah lama sekali semenjak terakhir posting ya. Masuk kembali ke dalam labirin untuk menjalankan “tugas” sejenak. Namun seperti biasa, I’m Back! — Gelas Kosong

Kembali memiliki kesempatan untuk nulis lagi memang merupakan suatu kenikmatan tersendiri. Tulisan kali ini mungkin sifatnya lebih ke self-reminder, siapa tau juga bisa sedikit banyak mengingatkan kalian yang baca tulisan ini.

Seperti judul di atas yaitu gelas kosong, diperjalanan kemarin saya diingatkan kembali tentang pentingnya untuk memposisikan diri dan pikiran layaknya gelas kosong saat sedang belajar sesuatu. Apapun itu.

Memposisikan diri selayaknya gelas kosong juga berarti mengeliminasi distraksi dan juga resistensi dari keyakinan atau knowledge yang telah kita miliki sebelumnya. Tahu lebih banyak terkadang bukan malah membuat kita mudah untuk belajar sesuatu hal, melainkan menjadi ganjalan untuk menyerap sesuatu yang baru karena pikiran kita resist terhadap hal baru yang kita pelajari.

Pada beberapa kejadian selama “tugas” itu berlangsung saya menemukan satu kendala yg cukup krusial. Ketika harus belajar sesuatu yang baru pikiran seperti stuck. Bisa dipelajari, tapi prosesnya entah kenapa lebih lama daripada biasanya. Bahkan beberapa kali sepertinya pikiran sampai hang karena kesulitan mencerna informasi yang masuk.

Penyebabnya jelas overload information. Pikiran bekerja lebih lambat karena terlalu banyak informasi yang diproses. Bukan hanya itu bisa jadi informasi yang ada pun saling bertentangan. Ya, sangat tidak nyaman. Mudah stres ketika belajar, loading lama, dan bisa membuat pada akhirnya malas untuk melanjutkan sesuatu yang ingin dipelajari.

Itu mengapa pada tulisan ini saya ingin mengingatkan pada diri saya sendiri khususnya dan umumnya buat para pembaca bahwa kondisi gelas kosong ini sangat penting. Informasi yang harus dicerna akan lebih mudah mengalir dan diolah.

So, jika kalian sedang menghadapi keadaan serupa seperti yang saya sebutkan di atas. Coba cek lagi sudahkah kita memposisikan diri kita selayaknya gelas kosong? Jika belum, kalian tahu kan apa yang harus dilakukan selanjutnya? 😉

Sekian untuk tulisan singkat kali ini. Semoga bermanfaat!

Related Articles

About author View all posts

Deni Heriyana

Mind Consultant & Therapist, Life Coach, Founder sekaligus penulis di 101mind.com, dan Part-Time Coder.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *