Jujur Pada Diri Sendiri

Jujur Pada Diri Sendiri

Sebelum lanjut, selalu saya ingatkan untuk kamu yang menyimak ini, bahwa kamu boleh tidak setuju dengan saya.

Saya teringat satu obrolan menarik bersama almarhum guru saya di suatu malam. Malam itu saya mengutarakan pada beliau bahwa saya merasa diingatkan kembali tentang tujuan hidup dan saya memiliki niat menelusuri dan menemukannya.

“Jika kamu mau menemukan tujuan hidupmu, teruslah berjalan mengenal dan masuk ke dalam dirimu. Sambil berlatih jujur pada diri sendiri”, jawab beliau saat itu setelah mendengar apa yang saya utarakan.

“Jujur pada diri sendiri? Harus dilatih? Kenapa?”, tanya saya bingung.

“Iya, coba kamu telaah ulang, jujur pada orang lain itu sebenarnya adalah hal yang mudah. Tapi nilai yang berlaku pada masyarakat saat ini lebih menyulitkan kita, membuat kita tidak terbiasa jujur pada diri sendiri. Entah karena ga enak sama orang, kita ga suka tapi kita sangkal, jika jujur malah terlihat aneh atau berbeda, takut dijauhi, dan beribu alasan untuk kita tidak jujur pada diri kita.”, lanjut beliau mempertegas penjelasannya.

Ia kemudian lanjut berkata, “Coba kamu hitung, sudah berapa banyak kejujuran pada dirimu sendiri yang kamu tahan / sangkal hanya demi mengikuti standar ‘baik-pantas-wajar‘ yang berlaku? Kamu tanpa sadar melatih tidak jujur pada diri sendiri kan?”.

“Iya, Benar!”, tanpa basa basi dan banyak penyangkalan harus saya akui itu memang terjadi.

“Orang bilang ikuti intuisi, ikuti kata hati tapi sambil tidak terbiasa jujur pada diri sendiri? Itu lucu. Gimana caranya kamu terbiasa mendengar kata hati jika sesuatu yang harusnya kamu anggap atau akui sebagai kebenaran saja tidak kamu percaya dan lakukan pada dirimu sendiri?”, seru beliau saat itu sambil menghisap rokoknya yang asapnya mengepul tebal.

“Intuisi kita akan terlatih ketika kita terbiasa jujur pada diri sendiri, dengan begitu kamu mulai bisa mendengar lebih jelas kata hatimu sendiri. Kamu kemudian bisa membedakan mana yang beneran kata hati, mana yang berlandaskan perasaan atau emosi. Hanya dengan melakukan kejujuran itu kamu akan bisa menerima apa-apa yang ada di dirimu dengan apa adanya. Sekali lagi ingat, apa adanya.”, lanjut beliau menerangkan.

“Ini kebenarannya, bahwa aku pun tidak bisa memberitahumu tentang apa tujuan hidupmu. Satu-satunya yang mampu menemukan ya dirimu sendiri. Kamu tidak perlu khawatir jika yang nanti kamu temukan itu tujuan hidup yang benar atau yang salah. Karena bukan soal BENAR atau SALAH. Mungkin ke depannya tujuan hidupmu berkembang atau bahkan berubah. Tak masalah asal kau terus jalani dengan tetap berpegangan pada kata hatimu. Karena mengikuti kata hati yang benar, tidak akan membuatmu menyesal kemudian di hari-hari ke depan.”, beliau berkata dengan nanar mata lembut tapi malah terkesan menusuk.

“Mulai saat ini juga cobalah mulai berkata jujur pada dirimu sendiri. Jika senang berkatalah senang dan ekspresikan. Jika sedih akuilah kamu sedih dan beri waktu sejenak untuk kesedihanmu ada disitu sebagai tanda kamu masih manusia normal. Begitu juga dengan marah, takut, gelisah. Akui saja setelah itu terima. Itu lebih baik daripada mencari pembenaran / pembelaan dari apa yang terjadi. Terima apa yang ada, seperti seharusnya, apa adanya. Karena semakin kamu menolak dan mencari pembenaran, pembelaan, penyangkalan, atau bahkan kamu lari maka sama saja kamu menolak hatimu sendiri untuk mengutarakan perkataannya.”

“Buktikanlah, kamu akan menyadari kelak jika kamu terbiasa jujur mengakui apa yang kamu rasakan, apa yang kamu inginkan, dan apa yang kamu pikirkan, kamu akan lebih mudah jujur pada orang lain tentang siapa dirimu, apa yang dirimu inginkan, suka atau tidak suka, tidak akan ada lagi keinginan menjadi penghibur orang lain, kamu menjadi otentik. Tidak akan lagi ada cerita kamu melakukan sesuatu terpaksa karena orang lain, tidak akan ada lagi kamu membuktikan pada orang lain. Kamu cukup menjadi dirimu sendiri apa adanya. Dan itulah yang membuatmu bahagia tanpa syarat. Menjalani setiap harinya sebagai dirimu sendiri.”

“Jika dalam perjalanannya kamu merasakan sakit, takut, gelisah, ragu, sedih, itu semua wajar. Kamu manusia. Tapi toh bukan cuma itu sajakan? Manusia juga bisa dan berhak merasakan kebahagiaan, suka cita, senang, berbagi dan berkontribusi. Itu juga bisa terjadi, tapi ingat hal itu bisa terjadi hanya jika kamu mengizinkan dirimu untuk merasakan hal-hal baik itu.”

“Menjadi diri sendiri bukan berarti egois, tapi soal menjadi apa adanya. Bukan berarti kamu melulu fokus sama diri sendiri. Tetap seimbang, ketika kamu bisa hidup apa adanya akan ada dorongan/panggilan untuk memberi/berkontribusi pada orang lain jg. Itu hukum alam.”

“Tidurlah, ini sudah malam. Mungkin perkataanku saat ini belum dapat kamu cerna sepenuhnya karena hatimu masih terombang ambing. Tapi aku yakin kelak kamu akan mengerti pada waktu yang tepat.”, tutupnya malam itu melihat saya kebingungan.

Doa-doa terbaik untuk almarhum guru saya semoga ilmunya menjadi berkah untuk yang hidup juga untuk beliau.

Related Articles

About author View all posts

Deni Heriyana

Mind Consultant & Therapist, Life Coach, Founder sekaligus penulis di 101mind.com, dan Part-Time Coder.

1 CommentLeave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *