Kamu Sudah Tahu Jawabannya

Kamu Sudah Tahu Jawabannya

Sampai perjalanan kemarin, ada seorang teman yang bertanya pada saya, terus apa yang harus dilakukan setelah mulai mencari ke dalam diri, belajar jujur pada diri sendiri, juga memutuskan berhenti berkompetisi? Apa yang harus saya lakukan setelah mencoba hal itu tapi masih kesulitan menemukan apa tujuan hidup saya.

Sebelum kita bicarakan, saya ingatkan untuk kamu yang menyimak, bahwa kamu boleh tidak setuju dengan saya.

Saya teringat salah satu kutipan Jalaluddin Rumi seorang penyair terkenal, yang juga memiliki serangkaian karangan menarik yang sangat digemari oleh orang-orang yang mempelajari tasawuf.

Rumi berkata :

At the center of your being

You have the answer.

You know who you are

and you know what you want.

Jalaluddin Rumi

Di pusat kesadaranmu kamu sudah memiliki jawabannya. Kamu tahu siapa dirimu dan kamu atau apa yang kamu inginkan.

Memang benar, semuanya sebenarnya sudah kita ketahui sebelumnya, karena itulah diri kita. Hanya seiring perjalanan kita terdistraksi oleh banyak hal, sehingga pusat kesadaran kita dipenuhi oleh noise yang membuat kita kesulitan untuk mengetahui siapa sebenarnya kita dan apa yang kita inginkan.

Untuk kamu yang masih kesulitan untuk mengetahui tentang tujuan hidupmu meski telah berlatih dan memahami hal yang sudah dibahas sebelumnya, kamu tak perlu khawatir. Semua baik-baik saja.

Karena yang kamu perlu kamu lakukan adalah berhenti sejenak untuk berpikir keras. Tak ada gunanya, apalagi sebelumnya sudah dibilang bahwa sebenarnya kamu sudah tahu.

Pahami lagi bahwa merasakan seperti apa dirimu bukan soal salah dan benar menurut orang, tapi tentang bagaimana dan apa yang dirimu rasakan. Untuk memperjelas mari kita ambil selembar kertas atau pena untuk melakukan simulasi.

Buat dua kolom terpisah, kemudian tuliskan tentang fakta yang benar yang kamu tahu dan tuliskan yang tidak benar. Contoh semisal namamu Nila, tuliskan Namaku Nila di kolom fakta, dan tuliskan Namaku Melati di kolom lainnya. Sebutkan perlahan kata-kata itu dan rasakan satu persatu. Apa yang kamu rasakan ketika menyebut “Namaku Nila”? Apa yang kamu rasakan ketika menyebut “Namaku Melati”?

Coba perhatikan rasa yang keluar dari dua aktivitas tadi, apakah ada perbedaan rasa yang muncul? Harusnya pasti ada dong perbedaannya.

Saat nama asli kamu Nila dan berkata namaku Nila biasanya akan ada rasa ringan, menerima, dan tidak ada penolakan. Sebaliknya jika nama asli kamu Nila dan berkata namaku Melati, maka ada perasaan ganjil, terasa berat, atau terasa ada penolakan.

Memang begitu, jika kita sederhanakan sesuatu yang benar memang terasa ringan, sementara yang salah itu berat dan terasa ada penolakan dari diri kita.

Lanjut tulis dua lagi fakta tentang dirimu, dan rasakan bedanya.

Nah, jika kamu sudah tau perbedaan mana rasa jika benar, mana rasa jika salah menurutmu sendiri. Ada 2 latihan yang bisa kamu lakukan.

Pertama, buatlah list dan tulis aktivitas-aktivitas yang kamu sukai, senangi, atau inginkan coba rasakan rasa yang muncul dari tiap-tiap aktivitas.

Cek kembali dari rasa tersebut, mana aktivitas yang sekiranya kamu sukai, kamu inginkan, dan membuat kamu bahagia. Mana aktivitas yang ternyata tidak kamu sukai. Coret aktivitas tersebut jika terasa bahwa itu bukan aktivitas yang kamu inginkan atau kamu sukai.

Lakukan ini selama 7 hari untuk memastikan apakah jawabannya sama dari setiap aktivitas yang sudah kamu tulis? Semakin konsisten rasa yang muncul semakin kuat aktivitas itu mencerminkan siapa dirimu dan apa yang kamu inginkan.

Jika sudah dapat gambaran, coba lakukan aktivitas-aktivitas yang terpilih tadi di waktu senggangmu untuk lebih memverifikasi rasanya.

Kenapa aktivitas? Biasanya tujuan hidupmu akan tercermin dari rangkaian aktivitas-aktivitas apa saja yang kamu sukai, inginkan, nikmati. Dengan menyadari aktivitas-aktivitas itu kamu akan terbantu untuk melihat siapa diri kamu dan apa yang kamu inginkan.

Kedua, kamu bisa membuat list cita-citamu sejak masa kecil hingga sekarang, jika lupa mungkin kamu bisa tanyakan pada orang tuamu apa yang kamu inginkan waktu kecil, tanyakan seperti apa dirimu. Tulis saja dulu, tak perlu berpikir soal mungkin atau tidak mungkin. Seperti selayaknya anak kecil yang ingin tanpa berpikir ini itu.

Coba rasakan dari setiap cita-cita yang kamu tulis tadi, jika terasa bahagia, senang, tertarik, antusias kamu bisa pertahankan. Jika tidak terasa begitu, kamu bisa coret cita-cita itu.

Cita-cita juga bisa jadi cerminan siapa diri kamu dan apa yang kamu inginkan selain dari aktivitas tadi. Ingat-ingat kembali alasan kenapa kamu pernah memiliki cita-cita itu. Alasannya bisa jadi sederhana, mungkin karena ingin nolong orang lain, ingin keren, ingin terkenal, dan lain-lain. Semua sah-sah saja. Boleh.

Lakukan juga selama 7 hari untuk memverifikasi mana rasa yang konsisten mana yang tidak.

Jika sudah coba konversi cita-citamu tadi ke aktivitas-aktivitas yang bisa kamu lakukan saat ini. Lalu coba lakukan sebisa mungkin di waktu-waktu luangmu dan amati dan perhatikan rasa yang muncul ketika kamu menjalani aktivitas.

Dari dua latihan ini kamu akan mulai menangkap dan mengenal kembali kerangka siapa dirimu sendiri, apa tujuan hidupmu, dan apa sebenarnya hidup yang ingin kamu jalani. Selamat mencoba.

Related Articles

About author View all posts

Deni Heriyana

Mind Consultant & Therapist, Life Coach, Founder sekaligus penulis di 101mind.com, dan Part-Time Coder.

1 CommentLeave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *