Realita Hidup di Era Digital, Darurat Empati dan Nurani

Realita Hidup di Era Digital, Darurat Empati dan Nurani

Harus saya akui jika menjalani life purpose di era digital sekarang ini tidaklah mudah. Beberapa dari orang yang saya kenal bahkan tidak kunjung memulai aktualisasi dirinya karena merasa khawatir dan takut. Apalagi semisal aktivitas yang ingin ia lakukan ingin ia bagi di sosial media.

Spesifiknya mereka takut aktivitas tersebut dikomentari oleh orang lain. Menghadapi orang-orang yang sudah dikenal saja butuh keberanian, apalagi dikomentari bahkan oleh orang yang tidak mereka kenal. Makin saja keberaniannya habis sebelum dimulai.

Obrolan kali ini akan membahas keresahan saya tentang hal itu.

Sebelum kita lanjut, saya ingatkan kembali untuk kamu yang menyimak ini, kamu boleh tidak setuju dengan saya.

Realita Hidup di Era Digital Zaman Sekarang

Di era digital seperti sekarang ini informasi begitu banyak bertebaran, kamu bisa mendapatkan banyak hal secara gratis ataupun berbayar. Bukan cuma jika kamu menggunakan sosmed, itu bahkan tanpa diundang lebih banyak lagi orang yang bisa mengomentari hidupmu meski kamu tidak kenal orang itu.

Netizen, orang menyebutnya begitu. Orang-orang yang aktif di dunia maya/internet.

Sebagian netizen masih banyak yang berkompetisi dalam hidup, wajar apabila mereka pada akhirnya mengomentari hidupmu, membandingkan dirimu dengan orang lain, atau bahkan mencibir ketus apa yang kamu lakukan. Itu semua wajar karena begitulah realita jika seseorang masih berkompetisi dalam hidup.

Kita perlu menyadari realita ini, dengan begitu kita akan lebih bisa mewajarkan apa yang terjadi karena sudah kita sadari. Jika ada yang mengomentarimu macam-macam wajar tak perlu merespon berlebihan, karena jika kamu merespon maka sama saja kamu kembali masuk ke dalam kompetisi hidup.

Ini bentuk noise yang sudah kita pernah singgung di tulisan sebelumnya. Saya harap kamu bisa bertahan untuk tidak memperdulikan noise yang ada dan fokus dalam aktualisasi dirimu. Menjalani hidup yang kamu inginkan.

Darurat Nurani dan Empati

Perilaku sebagian netizen yang ketus, bahkan tidak segan-segan mem-bully, mengatur-ngatur orang lain untuk sesuai kemauan mereka, khususnya di akun influencer atau akun-akun yang viral juga membuat saya resah.

Sebagian netizen itu tak segan-segan berkomentar menghina, mem-bully, atau dengan sengaja ingin menghancurkan orang yang ia komentari. Kadang sampai niat membuat akun palsu untuk komentar pedas.

Yang saya sadari adalah kita mengalami darurat nurani dan empati. Memang benar, ada kebebasan berkomentar tapi bukan berarti kita bebas mencela, menghina, dan membombardir orang yang tidak setuju dengan kita. Makanya sampai ada istilah netizen yang maha benar.

Ada etika dan juga tata krama yang seharusnya sejak kecil diajarkan baik oleh orang tua maupun di sekolah. Boleh bebas berkomentar selama sesuai etika dan tata krama.

Saya bicarakan keresahan ini bukan untuk mengubah mereka, tujuannya untuk mengingatkan diri saya agar jangan sampai saya melakukan hal seperti itu.

Ngaji Rasa

Ada satu prinsip orang Sunda yang cukup terkenal sewaktu ngaji rasa yang saya rasa cocok sebagai solusi fenomena ini :

Rumasa, Ngarasa, Boga Rarasaan

Tiga inti ini dalam kajiannya merupakan ciri yang harusnya membentuk pribadi seseorang.

Rumasa artinya sadar akan perbuatan sendiri. Bisa mengukur dan sadar atas segala konsekuensi atau akibat yang bisa ditimbulkan oleh perbuatan kita. Mau tak mau kita harus akui bahwa kita makhluk sosial yang hidup di tengah-tengah masyarakat.

Ngarasa artinya bisa merasakan. Apa yang ada di diri sendiri dan apa yang ada di sekitar. Ngarasa ini bicara tentang kesadaran diri kita, bicara tentang rasa yang ada.

Boga rarasaan yaitu mempunyai perasaan dan merasakan perasaan orang lain atau yang kita kenal sebagai empati.

Prinsip ini menurut saya bagus untuk kita pegang, untuk kita masukan menjadi kesadaran saat berinteraksi dengan orang lain. Seperti saat ngobrol, berkomentar, mengkritik, dan lain sebagainya. Karena sekarang ini kadang ada yang tidak bisa membedakan kritik dan menghina. Ngerasa mengkritik padahal menghina. Jika kamu belum tahu apa bedanya, coba balik mencari definisi kritik dan hinaan di KBBI.

Dalam merespons segala sesuatu kita disarankan untuk tetap menggunakan empati dan nurani kita secara seimbang dan tidak berlebihan. Sehingga kita lebih peka dan sadar saat berinteraksi dengan orang lain.

Ingat fokus mejalani hidup sesuai life purpose bukan malah membuat kita memperbesar ego, bukan juga mati-matian berkompetisi, dan tidak juga membuat kita malah menjadi orang ignorant yang tidak peduli dengan sekitar atau orang lain.

Justru harusnya ketika sudah mulai mengenal diri sendiri kita bisa lebih peduli dan mau berkontribusi pada orang lain tanpa melupakan kebutuhan kita sendiri. Akan ada panggilan untuk berkontribusi, namun kita tidak lagi mengorbankan dan melupakan diri kita sendiri demi orang lain. Seimbang.

Solusi Untuk Menghadapi Realita Seperti Ini

Takut itu wajar manusiawi, tapi kalo berlebihan ya salah juga. Ada tiga cara yang sudah saya coba praktekan ke diri saya sendiri dan dirasa ampuh membantu saya untuk tetap menjalani life purpose saya di tengah realita yang ada sekarang, sehingga tetap memiliki keberanian dan bisa memanage rasa takut.

  1. Fokus menjalani life purpose dan aktivitas-aktivitas yang kamu inginkan atau sukai. Fokus pada itu saja. Karena biasanya ketika kita fokus kita tidak akan mempedulikan noise yang muncul.
  2. Memilih tidak mengizinkan komentar orang mempengaruhimu. Emang bisa? Bisa, kamu tidak akan terpengaruh dengan komentar negatif, selama kamu tidak mengharapkan pujian. Jika kamu mengharapkan pujian, kamu akan otomatis terpengaruh dengan komentar negatif. Karena pujian dan komentar negatif itu sepaket menjadi kosekuensi. Seharusnya yang kita cari saat melakukan aktivitas-aktivitas itu bukan komentar atau pujian orang, tapi rasa senang, gairah, dan kebahagiaannya.
  3. Pilih mana yang mau kamu pedulikan, mana yang tidak. Manusia punya batasan untuk peduli pada banyak hal. Maka dari itu tentukan hal-hal apa saja yang mau dan benar-benar kamu ingin pedulikan. Jika tidak berfaedah lebih baik tidak perlu dipedulikan.

Semoga solusi yang ampuh bagi saya ini bisa membantu kamu juga.

Related Articles

About author View all posts

Deni Heriyana

Mind Consultant & Therapist, Life Coach, Founder sekaligus penulis di 101mind.com, dan Part-Time Coder.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *